Sabtu, 02 Juni 2012

PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL DAN PENJADWALAN DALAM MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI




1.    Sistem MRP terus mengalami pengembangan untuk mendorong integrasi data produksi denhgan berbagai aktivitas lain, termasuk rantai pasokan dan penjualan. Jelaskan bagaimana masing-masing tahap pengambangan MRP menjadi MRP 2 (Material Resource Planning) kemudian menjadi ERP (Enterprise Resource Planning) !

Menurut Yamit (2003) Material Requirement Planing merupakan suatu system yang dirancang secara khusus untuk suatu permintaan bergelombang, yang secara tipikal karena permintaan tersebut dependen. Oleh karena itu tujuan system MRP adalah (1) menjamin tersedianya material item atau komponen pada saat dibutuhkan untuk memenuhi skedul produksi, dan menjaminnya tersedia produk jadi bagi konsumen, (2) menjaga tingkat persediaan pada kondisi minimum, dan (3) merencanakan aktivitas pengiriman, penjadwalan, dan aktivitas pembelian.
MRP II merupakan suatu sistem informasi terintegrasi yang mengkoordinasikan pemasaran, manufacturing, pembelian dan rekayasa melalui pengadopsian rencana produksi serta melalui penggunaan satu data base terintegrasi guna merencanakan dan memperbaharui aktivitas dalam sistem industri modern secara keseluruhan.
ERP (Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. JIT ( Just In Time ) Merupakan falsafah pemecahan masalah yang berkelanjutan dan memang harus dihadapi yang dapat menyebabkan sesuatu terbuang percuma. TOC adalah suatu metodologi yang digunakan untuk mengatasi hambatan – hambatan yang terintegrasi.

Analisa Hubungan :
a)    MRP dan JIT ala Jepang
MRP dapat dinyatakan sebagai teknik perencanaan dan penjadwalan, sedangkan JIT dapat dinyatakan sebagai cara menggerakkan bahan baku secara cepat. Penggabungan MRP dan JIT menghasilkan jadwal utama yang baik dan gambaran kebutuhan yang akurat dari system MRP dan penurunan persediaan barang dalam proses. Meski demikian, penggunaan sistem MRP dengan paket kecil saja sudah bisa sangat efektifdalam mengurangi persediaan.
Dalam system MRP mengharuskan adanya konsep pentahapan waktu (time phasing) yang membutuhkan pembuatan jadwal untuk mengirimkan komponen terhadap suatu produk dengan menggunakan data waktu pesanan. Dalam system JIT, konsep pentahapan waktu tidak diperlukan, karena system ini didasarkan pada produksi lancar. Dalam kasus pelancaran produksi sangat sulit dan proses produksi sangat pendek, penggunaan MRP lebih tepat.
Jadwal produksi keseluruhan dalam system JIT ala Jepang, perlu dikirimkan ke seluruh pabrik sebelum kegiatan produksi dimulai. Jadwal keseluruhan seperti ini dalam system MRP disebut jadwal produksi induk (MPS). MPS ini sangat penting bagi system MRP karena merupakan sasaran yang harus dijaga ketat. Dalam system JIT ala Jepang, MPS tidak menjadi sasaran produksi yang harus dijaga ketat, tetapi hanya sebagai kerangka kerja untuk menyiapkan pengaturan bahan dan pekerja pada setiap proses.
Akibatnya, dalam system MRP harus dilakukan peninjauan pada akhir setiap selang waktu untuk membandingkan rencana produksi dengan kenyataan. Jika terjadi perbedaan harus dilakukan perbaikan. Dalam system JIT ala Jepang tidak membutuhkan perbandingan seperti itu dengan sendirinya muncul dalam hasil produksi harian. Di samping itu dalam system produksi JIT ala Jepang, dilakukan system terbalik dari lini paling akhir menuju proses sebelumnya (system tarik), sementara itu system MRP digolongkan sebagai system dorong dengan dorongan yang berasal dari perencanaan pusat, system JIT ala Jepang dapat cocok dengan system MRP setelah MRP membuat MPS, system JIT dapat diterapkan sebagai alat pengiriman produksi pada setiap unit proses.
(Yamit, 2003)
b)    MRP dan ERP
ERP adalah perkembangan dari Manufacturing Resource Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya.
Dari uraian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa keempat kal di atas, yaitu:

 

Kelima hal tersebut memiliki suatu hubungan dalam hal meningkatkan produktivitas suatu perusahan. Jadi keempat hal tersebut adalah suatu langkah-langkah dalam meningkatkan produktifitas perusahaan sehingga bisa membuat perusahaan tersebut maju dan bisa lebih bersaing dengan para pesaingnya. Urutan dari metode-metode di atas adalah MRP – MRP II – ERP – JIT dengan pembatas adalah TOC. Jadi dengan kata lain dasarnya adalah MRP kemudian dikembangkan menjadi MRP II, setelah itu MRP II dikembangkan menjadi ERP, kemudian ERP diteruskan ke JIT dari MRP II sampai JIT dibatasi oleh constrain dalam TOC.
(Anonymousa,2011)

TAHAPAN EVOLUSI ERP
ü  Tahap I : Material Requirement Planning (MRP), Merupakan cikal bakal dari ERP, dengan konsep perencanaan kebutuhan material,
ü  Tahap II: Close-Loop MRP, Merupakan sederetan fungsi dan tidak hanya terbatas pada MRP, terdiri  atas alat bantu penyelesaian masalah prioritas dan adanya rencana yang dapat diubah atau diganti jika diperlukan,
ü  Tahap III: Manufakturing Resource Planning (MRP II), Merupakan pengembangan dari close-loop MRP yang ditambahkan 3 elemen yaitu: perencanaan penjualan dan operasi, antarmuka keuangan dan simulasi analisis dari kebutuhan yang diperlukan
ü  Tahap IV: Enterprise Resource Planning, Merupakan perluasan dari MRP II yaitu perluasan pada beberapa proses bisnis diantaranya integrasi keuangan, rantai pasok dan meliputi lintas batas fungsi organisasi dan juga perusahaan dengan dilakukan secara mudah,
ü  Tahap V: Extended ERP (ERP II), Merupakan perkembangan dari ERP yang diluncurkan tahun 2000, serta lebih konflek dari ERP sebelumnya.

(Anonymousb,2011)


2.    Kelebihan dan Kekurangan Sistem ERP.

ü  Kelebihan:
a)    Integrasi antara area fungsional yang berbeda untuk meyakinkan komunikasi, produktifitas dan efisiensi yang tepat.
b)    Rancangan Perekayasaan
c)    Pelacakan pemesanan dari penerimaan sampai fulfillment
d)    Mengatur saling ketergantungan dari proses penagihan material yang kompleks
e)    Pelacakan 3 cara yang bersesuaian antara pemesanan pembelian, penerimaan inventori, dan pembiayaan
f)     Akuntasi untuk keseluruhan tugas: melacak pemasukan, biaya dan keuntungan pada
ü  Kekurangan:
a)    Sistem ERP sangat mahal
b)    Perekayasaan kembali proses bisnis untuk menyesuaikan dengan standar industri yang telah dideskripsikan oleh sistem ERP dapat menyebabkan hilangnya keuntungan kompetitif
c)    ERP sering terlihat terlalu sulit untuk beradaptasi dengan alur kerja dan proses bisnis tertentu dalam beberapa organisasi
d)    Sistem dapat terlalu kompleks jika dibandingkan dengan kebutuhan dari pelanggan
e)    Data dalam sistem ERP berada dalam satu tempat, contohnya : pelanggan, data keuangan. Hal ini dapat meningkatkan resiko kehilangan informasi sensitif, jika terdapat pembobolan sistem keamanan.

(A nonymousb,2011)


3.    Setiap kelompok melakukan tugas pengamatan lapang dan pengumpulan data melalui wawancara ke sentra-sentra agroindustri UKM di sekitar Kota Malang berdasarkan industry (unit bisnis) acuan masing-masing kelompok.

a.    Apakah perusahaan agribisnis acuan yang anda amati tersebut telah melakukan konsep MRP dan ERP dalam manajemen produksi dan operasinya ?
Perusahaan yang kami amati yaitu UD Nusantara, belum melakukan konsep MRP dan ERP dalam manajemen produksi dan operasinya. Dalam mengatur produksinya, perusahaan ini mendaftar kebutuhan bahan, persediaan, penerimaan yang diperkirakan, dan jadwal produksi  untuk menentukan kebutuhan material dengan cara manual. Semua kegiatan manajemen produksi dilakukan dengan sederhana tanpa adanya sistem komputerisasi

b.    Jika ya, jelaskan bagaimana pelaksanaan MRP (Material Requirement Planning) II dan ERP (Enterprise Resource Planning) pada perusahaan agribisnis acuan anda !
Tidak melaksanakan konsep MRP dan ERP




















TUGAS PEMBELAJARAN 2

1.    Penjadwalan pada system jasa biasanya berbeda dengan system manufaktur. Jelaskan beberapa system penjadwalan yang umumnya digunakan pada system jasa dan sebutkan sumber referensinya.

Industri dapat dipandang sebagai kegiatan untuk mengolah suatu input melalui proses produksi sehingga dihasilkan output yang memiliki nilai tambah. Kegiatan mengolah input tersebut tentunya tidak lepas dari peran sumber daya manusia yang bertindak sebagai operator dalam menjalankan dan mengendalikan proses produksi tersebut serta fasilitas-fasilitas produksi, seperti mesin-mesin produksi.
Dengan demikian aktifitas penjadwalan produksi yaitu proses pengalokasian beban kerja ke masing-masing bagian atau departemen dapat mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan, yang nantinya akan berpengaruh terhadap tingkat kepuasan konsumen / consumer satisfication. Namun kenyataan menunjukkan banyak perusahaan yang kurang memperhatikan pentingnya aktifitas penjadwalan produksi. Padahal aktifitas penjadwalan produksi dapat mempengaruhi tingkat utilisasi fasilitas produksi perusahaan, kapasitas produksi, dan kelancaran proses produksi.
1)    Beberapa metode yang yang dapat digunakan dalam menyusun jadwal adalah sebagai berikut :
Metode Jalur Kritis ( critical path method ). Metode ini lebih cocok untuk penjadwalan pekerjaan proyek yang memiliki kegiatan awal dan kegiatan akhir.
2)    Pendekatan cabang dan batas ( branch and bound approach )
Metode ini banyak digunakan untuk membuat jadwal produksi kelompok dan disajikan dalam bentuk pohon dengan cabang – cabangnya.
3)    Lini keseimbangan ( line of balancing )
Metode ini efektif digunakan untuk pembuatan jadwal proyek atau jadwal produksi untuk unit tunggal yang menggunakan system rakitan, seperti pembuatan kursi jok.
4)    Metode Perencanaan Kebutuhan Bahan (material requirement planning / MRP )
Metode ini telah banyak digunakan dalam penyelesaian proyek industri, mulai dari pembangunan rumah sederhana hingga gedung pencakar langit.
5)    Metode Tepat Waktu ( just in time / JIT )
Metode ini merupakan system produksi yang dikembangkan oleh Jepang dan terbukti berhasil untuk pekerjaan produksi massa dan berulang dengan pengendalian yang lebih ketat.
6)    Metode Teknologi yang dioptimalkan ( optimized production technology / OPT )
Metode ini merupakan metode yang relatif baru dan didukung oleh perangkat lunak komputer.


2.    Jelaskan dua teknik / pendekatan yang digunakan untuk menguji pembebanan (loading) dalam system pembebanan.

Loading atau pembebanan terbagi 2 yaitu pembebanan maju (forwad loading) dan pembebanan mundur (backward loading).
a.    Forward Loading
Asumsi yang digunakan pada forward loading adalah : Kapasitas berhingga (Definite Capacity). Asumsi Definite Capacity digunakn untuk menentukan kapasitas yang dibutuhkan pada setiap periode waktu untuk mencapai penyelesaian paling cepat.  Pekerjaan dimulai seawal mungkin sehingga pekerjaan biasanya selesai sebelum batas waktu yang dijanjikan (due). Penjadwalan maju banyak digunakan dalm perusahaan dimana opersai dibuat berdasarkan pesanan dan pengiriman dilakukan segera setelah pekerjaan selesai.


b.    Backward loading
Asumsi yang digunakan pada backward loading adalah : tanggal jatuh tempo dari pekerjaan selalu diberikan. Bacward loading dimaksudkan untuk menghitung kapasitass yang dibutuhkan pada tiap pusat kerja untuk setiap periode waktu. Backward loading membantu menemukan kapasitas maksimum yang diperlukan untuk memenuhi semua tanggal jatuh tempo. Berlawanan dengan penjadwalan maju, kegiatan operasi dijadwalakan lebih dulu penjadwalan mundur.


3.    Setiap kelompok melakukan tugas pengamatan lapang dan pengumpulan data melalui wawancara ke sentra – sentra agroindustry LKM di sekitar kota Malang berdasarkan Industri (unit bisnis )acuanmasing – masing kelompok.

a.    Apakah perusahaan agribisnis acuan yang anda amati tersebut telah melakukan konsep penjadwalan dalam manajemen produksi dan operasinya?
Menurut kelompok kami perusahaan UD.NUSANTARA (Perusahaan Acuan, HOME INDUSTRI) tidak melakukan konsep penjadwalan dalam manajemen produksi dan operasinya. Produksi dilakukan pada saat ada pemesanan akan tetapi sudah mempunyai pelanggan, sehingga dalam satu minggu akan melakukan proses produksi. UD. NUSANTARA tidak menjadwal dalam melakukan proses produksi, jika ada pemesanan atau permintaan baru melakukan produksi.
Perusahaan sudah melakukan perencanaan kapasitas dengan menambah fasilitas peralatan, meskipun rencana tersebut masih dalam jangka waktu yang panjang karena keterbatasan lahan. Belum ada perubahan personel/ karyawan dalam perusahaan, karyawan masih dalam lingkup kekeluargaan.
Belum adanya perencanaan kebutuhan material dan perencanaa jangka pendek bisa dikatakan perusahaan ini belum melakukan konsep penjadwalan, meskipun sebenarnya UD. NUSANTARA sudah mempunyai perencanaan dalam memproduksi produknya.

b.    Jika ya, jelaskan bagaimana pelaksanaan penjadwalan pada perusahaan agribisnis acuan kelompok anda.
Tidak melakukan konsep penjadwalan























DAFTAR PUSTAKA


Anonymous,2011.http://sangpenyampai.blogspot.com/2010/04/penjadwalan-produksi. html.
            Di unduh tanggal 14 Juni 2011

Anonymous.2011.http://www.google.co.id/search?hl=id&biw=1360&bih=674&q=kelebihan+dan+kelemahan+ERP&aq=f&aqi=g1&aql=&oq=
            Di unduh tanggal 14 Juni 2011

Anonymous.2011.http://sidik-jari.com/search/sistem-penjadwalan-yang-umumnya-digunakan-pada-sistem-jasa/
            Di unduh tanggal 14 Juni 2011

Dewi, Dian Retno Sari., 2005, Pengembangan Algoritma Penjadwalan Produksi Job Shop Untuk Meminimalkan Total Biaya Earliness dan Tardiness, Skripsi di Jurusan Teknik Industri, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya.

Zulian Yamit.2003.Manajemen Produksi dan Operasi.Ekonisia.Fakultas Ekonomi UII.Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar